“APA?
aku selama ini cuman anak angkat?” cewek yang mengenakan seragam abu abu putih
itu langsung keluar dari kamarnya, mencari Ibunya sambil membawa sebuah foto
yang sudah terlihat kusam. Di meja makan, terlihat sang Ibu yang sedang makan
sari roti, tiba tiba tersedak karena mendengar teriakan anaknya. “Hentikan
makan itu! Bukan karena masalah politik! Tapi jawab ini! Benarkah wanita ini adalah yang ada di foto
ini adalah ibu kandungku?” JENG JENG ! JENG JENG! “Aku bilang hentikan makannya! JAWAB! Mata melotot melebihi Suzana
disaat minta sate 100 tusuk.
Oke
tria stop it, kali ini bukan waktu nya bikin fiksi! Tapi waktu menulis cerita
nyata!
Sebenernya
apa sih yang terjadi jika perestiwa tersebut, benar benar terjadi di kehidupan
nyata? Pertanyaan ini terlontar disaat gue bertemu dengan salah satu pengurus Yayasan
Sayap Ibu, ibu heliyanti. Sebuah yayasan
yang menampung anak anak terlantar. Yang mungkin sebagian besar, anak anak yang
tidak diinginkan orangtuanya untuk lahir ke dunia. Namun sebagian anak anak itu
pun, memiliki nasib yang cukup beruntung, karena terpilih untuk diadopsi oleh
sebuah keluarga yang sangat berkecukupan. Setelah ngobrol panjang lebar dengan
tante Yanti, di penghujung pembicaraan, gue bertanya:
Gue
: Disaat mereka besar, apakah pernah ada yang ingin bertemu dengan orang tua
aslinya?
Tante
Yanti : Oh iya pernah! Kejadiannya kaya sinetron, si anak pengen banget ketemu
ibu aslinya, lalu mereka bertemu di yayasan ini ditemani orang tua angkatnya. Walaupun
sebenernya orangtua angkatnya sangat takut akan kehilangan anaknya, setelah
bertemu ibu aslinya.
Gue
: Terus gimana reaksi mereka? Nangis nangisan dong! terus peluk pelukan gitu? *gue
semangat berharap kejadian bener bener kaya di film film*
Tante
Yanti : Ah itu cuman di sinetron, kalau sampai lebay kaya gitu! Si anak cuman penasaran
ibunya seperti apa, mungkin pengen tahu wajahnya seperti apa. Mereka cuman bertemu,
awal awal pasti kaku, lalu ngobrol dan pulang!
Gue
: Gitu aja? Gak nangis?? Gak pelukan? *pertanyaan yang sama dengan sebelumnya”
Tante
Yanti : Ya enggak ! Emang gitu aja!
Gue
: Gak pernah kontak kontakan lagi? *tetap berharap sedrama di film*
Tante
: Enggak! Gitu aja!
Gue
: Tapi kalau di film kan …biasanya heboh, terus akhirnya mereka jadi dekat
sering jalan bareng…saling menyesal karena lama terpisah jauh (tetep loh gue)
Tante
Yanti : Enggak pernah ada si cerita begitu di yayasan ini. Palingan, pernah ada
satu anak, dia mencari tahu tentang ibu kandungnya, disaat tahu keadaan ibunya
yang memang ekonominya sangat kurang. Setiap bulan dia transfer ke ibunya.
Gue
: Terus mereka yang telah ketemu ibu kandung aslinya, ada yang mempertanyakan
gak sih kenapa mereka dibuang? Terus mungkin pake adegan marah ngambek, kecewa
*tetep lho gue *
Tante
Yanti : Gak ada sama sekali! Rata rata mereka bersyukur dan mungkin
berterimakasih pada orangtua kandungnya, karena telah diserahkan ke yayasan.
Karena mereka pikir, jika mereka tetap bersama orangtua kandungnya, kemungkinan
besar nasib mereka akan sama seperti orang tuanya, memiliki keadaan ekonomi
yang jauh dari orang mampu.
Terus
gue merenung dan kecewa, selama ini merasa ditipu oleh adegan adegan film bule
atau sinetron Indonesia, yang biasanya kejadiannya lebih dramatis. *apa sih gak
penting banget gue*
Tentunya,
pembicaraan gue sama tante yanti bukan mengenai ini aja. Seperti, mengenai
darimana saja anak terlantar ini, lalu
perjuangan yayasan untuk menyembuhkan / memperbaiki anak anak yang memiliki “kekurangan”
bisa dalam bentuk fisik maupun mental. Lalu darimana saja dana berasal, drama
apa saja yang dimiliki anak anak ini disaat melihat teman temannya terpilih
untuk diadopsi oleh sebuah keluarga, lalu apa efek mereka disaat menyadari beda
dari yang lainnya karena tidak punya orang tua, dan bagaimana usaha mereka
untuk mendapatkan biaya pengobatan yang termurah bagi anak anak yang
membutuhkan perawatan yang ekstra, hingga rencana ke depan yang berniat menambah
bangunan untuk menambah fasilitas yayasan.
Huuh
lemes dengernya, benar benar ketampar! Jadi bertanya pada diri gue sendiri “Gue
udah berbuat apa aja ya untuk orang orang sekitar? Kalau sekedar sumbangan atau
semacamnya mah udah memang kewajiban setiap orang , Emmmh ngasih makan kucing? Termasuk amal gak tuh?
Mungkin
di sosial media yang terkekspos adalah orang orang yang tidak dibanggakan,
membuat kita berpikir sebagian besar orang Indonesia tidak baik, rata rata korupsi,
tidak toleransi dan sebagainya.
Tapi
coba deh kamu jangan terlena dengan pemberitaan pemberitaan di media, coba
perhatikan lingkungan sekitar kamu, dari mulai yang dekat dekat aja dulu. Masih
banyaaaak orang baik, bahkan tidak sedikit orang yang menghabiskan sebagian
besar waktunya untuk kegiatan sosial. Mendedikasikan hidupnya hanya untuk menolong
orang orang yang butuh pertolongan, hingga meninggalkan kerjaan utamanya, yang sudah
jelas akan menghasilkan duit lebih besar, dibanding hanya sekedar mengurus
yayasan.
Memang
gaji pegawai pegawai di Yayasan Sayap ibu ini tidak seberapa, bahkan para
pengurus yayasan tidak digaji sama sekali. Tapi tabungan amal mereka terus
bertambah.
Jadi gimana lebih baik tabungan amal yang bertambah atau tabungan Bank? Emmmh dua dua nya bisa gak?
Comments
Post a Comment