Cerita Anak Anak Terlantar #15daywritingchallengeday4

“APA? aku selama ini cuman anak angkat?” cewek yang mengenakan seragam abu abu putih itu langsung keluar dari kamarnya, mencari Ibunya sambil membawa sebuah foto yang sudah terlihat kusam. Di meja makan, terlihat sang Ibu yang sedang makan sari roti, tiba tiba tersedak karena mendengar teriakan anaknya. “Hentikan makan itu! Bukan karena masalah politik! Tapi jawab ini!  Benarkah wanita ini adalah yang ada di foto ini adalah ibu kandungku?” JENG JENG ! JENG JENG! “Aku bilang hentikan  makannya! JAWAB! Mata melotot melebihi Suzana disaat minta sate 100 tusuk. 
Oke tria stop it, kali ini bukan waktu nya bikin fiksi! Tapi waktu menulis cerita nyata!
Sebenernya apa sih yang terjadi jika perestiwa tersebut, benar benar terjadi di kehidupan nyata? Pertanyaan ini terlontar disaat gue bertemu dengan salah satu pengurus Yayasan Sayap Ibu, ibu heliyanti.  Sebuah yayasan yang menampung anak anak terlantar. Yang mungkin sebagian besar, anak anak yang tidak diinginkan orangtuanya untuk lahir ke dunia. Namun sebagian anak anak itu pun, memiliki nasib yang cukup beruntung, karena terpilih untuk diadopsi oleh sebuah keluarga yang sangat berkecukupan. Setelah ngobrol panjang lebar dengan tante Yanti, di penghujung pembicaraan, gue bertanya:
Gue : Disaat mereka besar, apakah pernah ada yang ingin bertemu dengan orang tua aslinya?  
Tante Yanti : Oh iya pernah! Kejadiannya kaya sinetron, si anak pengen banget ketemu ibu aslinya, lalu mereka bertemu di yayasan ini ditemani orang tua angkatnya. Walaupun sebenernya orangtua angkatnya sangat takut akan kehilangan anaknya, setelah bertemu ibu aslinya.
Gue : Terus gimana reaksi mereka? Nangis nangisan dong! terus peluk pelukan gitu? *gue semangat berharap kejadian bener bener kaya di film film*
Tante Yanti : Ah itu cuman di sinetron, kalau sampai lebay kaya gitu! Si anak cuman penasaran ibunya seperti apa, mungkin pengen tahu wajahnya seperti apa. Mereka cuman bertemu, awal awal pasti kaku, lalu ngobrol dan pulang!  
Gue : Gitu aja? Gak nangis?? Gak pelukan? *pertanyaan yang sama dengan sebelumnya”
Tante Yanti : Ya enggak ! Emang gitu aja!
Gue : Gak pernah kontak kontakan lagi? *tetap berharap sedrama di film*
Tante : Enggak! Gitu aja!
Gue : Tapi kalau di film kan …biasanya heboh, terus akhirnya mereka jadi dekat sering jalan bareng…saling menyesal karena lama terpisah jauh (tetep loh gue)
Tante Yanti : Enggak pernah ada si cerita begitu di yayasan ini. Palingan, pernah ada satu anak, dia mencari tahu tentang ibu kandungnya, disaat tahu keadaan ibunya yang memang ekonominya sangat kurang. Setiap bulan dia transfer ke ibunya.
Gue : Terus mereka yang telah ketemu ibu kandung aslinya, ada yang mempertanyakan gak sih kenapa mereka dibuang? Terus mungkin pake adegan marah ngambek, kecewa *tetep lho gue *
Tante Yanti : Gak ada sama sekali! Rata rata mereka bersyukur dan mungkin berterimakasih pada orangtua kandungnya, karena telah diserahkan ke yayasan. Karena mereka pikir, jika mereka tetap bersama orangtua kandungnya, kemungkinan besar nasib mereka akan sama seperti orang tuanya, memiliki keadaan ekonomi yang jauh dari orang mampu.  
Terus gue merenung dan kecewa, selama ini merasa ditipu oleh adegan adegan film bule atau sinetron Indonesia, yang biasanya kejadiannya lebih dramatis. *apa sih gak penting banget gue*
Tentunya, pembicaraan gue sama tante yanti bukan mengenai ini aja. Seperti, mengenai darimana saja anak  terlantar ini, lalu perjuangan yayasan untuk menyembuhkan / memperbaiki anak anak yang memiliki “kekurangan” bisa dalam bentuk fisik maupun mental. Lalu darimana saja dana berasal, drama apa saja yang dimiliki anak anak ini disaat melihat teman temannya terpilih untuk diadopsi oleh sebuah keluarga, lalu apa efek mereka disaat menyadari beda dari yang lainnya karena tidak punya orang tua, dan bagaimana usaha mereka untuk mendapatkan biaya pengobatan yang termurah bagi anak anak yang membutuhkan perawatan yang ekstra, hingga rencana ke depan yang berniat menambah bangunan untuk menambah fasilitas yayasan.  
Huuh lemes dengernya, benar benar ketampar! Jadi bertanya pada diri gue sendiri “Gue udah berbuat apa aja ya untuk orang orang sekitar? Kalau sekedar sumbangan atau semacamnya mah udah memang kewajiban setiap orang , Emmmh ngasih makan kucing?  Termasuk amal gak tuh?
Mungkin di sosial media yang terkekspos adalah orang orang yang tidak dibanggakan, membuat kita berpikir sebagian besar orang Indonesia tidak baik, rata rata korupsi, tidak toleransi dan sebagainya.
Tapi coba deh kamu jangan terlena dengan pemberitaan pemberitaan di media, coba perhatikan lingkungan sekitar kamu, dari mulai yang dekat dekat aja dulu. Masih banyaaaak orang baik, bahkan tidak sedikit orang yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk kegiatan sosial. Mendedikasikan hidupnya hanya untuk menolong orang orang yang butuh pertolongan, hingga meninggalkan kerjaan utamanya, yang sudah jelas akan menghasilkan duit lebih besar, dibanding hanya sekedar mengurus yayasan.

Memang gaji pegawai pegawai di Yayasan Sayap ibu ini tidak seberapa, bahkan para pengurus yayasan tidak digaji sama sekali. Tapi tabungan amal mereka terus bertambah. 

Jadi gimana lebih baik tabungan amal yang bertambah atau tabungan Bank? Emmmh dua dua nya bisa gak? 

Comments