Kebebasan Menulis Part 2 #15daywritingchallengeday2

“Siang Mba Mince,  udah seminggu kan jadian sama Mas yang satu itu hehe... Udah ada rencana berlanjut ke pelaminan?”
Aneh tapi nyata! tapi pertanyaan itu lah yang sering kita dengar di acara acara infotainment disaat mewawancarai artis artis yang sedang digosipkan punya “hubungan” dengan seseorang( lawan jenis). Itu baru satu contoh, masih banyak pertanyaan ajaib lainnya.

Selama 4 tahun kerja di Televisi Nasional sebagai creative, tidak pernah mendapat program infotainment adalah sebuah anugrah buat gue. Padahal, salah satu bagian yang gue favoritkan kerja di tv adalah bisa melakukan sebuah interview / exclusive interview langsung dengan artis / seorang tokoh idola. Tapi untuk interview kapan dia ke salon atau membongkar isi tas artis bukanlah hal yang menarik buat gue.

Sebenernya bukan artis saja yang menarik untuk di interview. Orang orang biasa pun bisa menjadi bahan yang sangat menarik. Tergantung kebutuhan konsep yang kita inginkan. Dan disaat hasil interview itu bisa menjadi sebuah karya atau tulisan yang bermanfaat, bahkan bisa menjadi inspirasi bagi  banyak orang, rasanya punya kepuasan dan kebanggaan tersendiri. 

Balik lagi ke masalah Infotainment. Pada satu waktu gue pernah menonton Infotainment yang terkesan, mereka menulis berita (narasi) terdahulu, sebelum melakukan interview langsung dari artis yang diberitakan. Isi berita hanyalah sudut pandang si penulis, yang terkesan berita itu adalah sebuah fakta. 
Dan hal inilah yang gue rasakan belakangan ini disaat membaca tulisan tulisan yang tersebar di sosial media. Penuh asumsi tanpa klarifikasi dari orang yang bersangkutan (yang diberita kan)  dengan segala macam tuduhan. Namun dari cara penulisan dengan tutur kata yang apik dan menarik, membawa pembaca seolah olah berita tersebut adalah sebuah hal yang sudah pasti benar/ tidak diragukan lagi! Walaupun nyatanya, itu masih hanya sebuah asumsi atau hanya sebuah sudut pandang.  
Ya memang kita sekarang  sudah berada di jaman untuk bebas menulis apa pun yang kita inginkan, tanpa saringan dan tersebar dengan cepat tanpa perduli itu hoax atau tidak, yang penting masuk dengan logika si pembaca yang akhirnya ikut menyebar berita.

Well... Siapa pun yang menulis artikel artikel tersebut, adakah keinginan mereka sesekali melakukan exclusive interview langsung dengan orang / tokoh yang mereka berita kan? Atau mungkin orang orang terdekat dari tokoh tersebut? 
Digaris bawahi kata "sesekali"!

Seorang penulis itu sudah semestinya memiliki jiwa rasa ingin tahu yang besar , harus bisa melakukan survei yang tidak sembarangan, kritis dalam segala hal, dan melihat suatu masalah tidak hanya dari satu sisi saja. 

Apalagi disaat penulis sudah memasuki area politik. Sudah semestinya mereka jauh kritis dan memiliki keberanian yang lebih besar untuk mendapatkan sebuah berita yang fresh, dan terpercaya.

Jika tidak memiliki jiwa seperti yang gue sebut diatas, sebaiknya jangan menulis politik, lebih baik tanya aja si Mince kapan nikahnya. Gampang toh?

Salam damai, Astria Soedomo

Comments