"Tria…tulisan kamu kemaren itu cukup sensitif, untungnya program kamu ini masih baru, belom banyak yang nonton.” Tegur sang bos, setelah mendapat pengaduan dari tim programming. (tim penyeleksi layak tayang atau tidak sebuah program tv).
Disaat itu gue menjabat sebagai creative tv, dimana salah satu tugas utama gue adalah menulis untuk acara tv. Sebuah program acara remaja, dengan konsep seperti sitcom, yang dipadu dengan info info /tips tips dunia cewek.
Terus, kenapa tulisan gue bisa bikin gue di tegor oleh bos dan tim programming di acara ringan seperti itu?
Karena di salah satu episode, ada sebuah skenario/ percakapan yang diperankan oleh dua cewek abg, mengandung unsur agama. Sedikit sekali! Apakah percakapan tersebut mengadung ejekan? Mengandung hinaan? TIDAK SEDIKIT PUN! Jauh dari itu! Percakapan itu murni hanya sebuah obrolan yang biasa dilakukan antar dua cewek mengenai perayaan hari besar agama. Jujur, detail kalimatnya seperti apa gue lupa. Walaupun gue sempat mempertanyakan dimana letak sensitif nya, pada akhirnya gue menyadari memang lebih aman tidak ada kalimat/percakapan tersebut.
Disinilah titik dimana gue menyadari bertapa besarnya tanggung jawab gue sebagai penulis tv. Sebuah tulisan atau karya yang gue buat, akan menjadi konsumsi publik. Jadi harus sangat hati hati!
Pada waktu itu belom ada sosial media, jadi masyarakat mendapat sumber info apa pun hanya dari radio, majalah, Koran dan tv. Dimana biasanya ada saringan terdahulu dari sebelum layak terbit atau layak tayang. Ya walaupun media media besar pasti sering kebablasan juga.
Jaman sekarang? Tidak ada saringan sama sekali. Siapa pun bisa menulis, siapa pun bisa ikut menyebarkan tulisan. Tidak ada yang menegur, kesalahan dari tulisan atau tidak ada yang bisa menyaring kebohongan berita.
Hingga akhirnya isu yang sangat sensitif, isu yang membuat gue ditegur oleh bos gue pun menjadi trend di sosial media. Gue gak tahu “trend” adalah kata yang tepat atau bukan. Yang pasti , tiap hari di sosial media pasti muncul topik mengenai agama.
Mungkin dari semua pembahasan agama, yang cukup terganggu buat gue adalah disaat orang bersuara mengenai pemahaman ayat al quran yang masih diperdebatkan. Dibahas panjang lebar oleh seseorang (biasanya blogger) yang kita tidak tahu kualitas ilmu agama nya seperti apa, dan di share orang banyak karena merasa itu adalah penjelasan yang paling masuk akal. Bahkan ada juga non muslim yang ikut share ayat tersebut. Maaf banget, tapi gue sebagai muslim aja tidak berani berkomentar apalagi berdebat mengenai ayat al quran yang gue masih kurang paham di sosial media. Mengingat rendahnya ilmu agama gue, gue lebih memilih diam dan mencari tahu dari orang yang menurut gue bisa gue percaya, dan dipastikan orang tersebut benar benar berilmu. Dan mungkin ilmu tersebut tidak bisa kita lahap dari sumber satu orang saja.
Tapi itu lah kemajuan teknologi, tidak ada yang bisa mengontrolnya. Berita apa pun , isu apa pun tersebar dengan mudah di internet. Sekarang balik lagi ke diri kita, untuk menghadapi kemajuan teknologi ini. Di jaman yang makin canggih ini, penyaring berita/info adalah kita sendiri, manusia biasa, rakyat biasa. Kita sendiri lah yang menentukan berita mana yang bisa kita sebar. Yang mana yang pantas untuk kita bicarakan di sosial media. Atau yang mana yang pantas diperdebatkan di sosial media.
Tapi kalau kekeuh pengen berdebat dan bersuara terus di sosial media, saran gue cuman satu sih: Perbanyak ilmu dulu!
Salam damai,
Astria Soedomo
Comments
Post a Comment